Sabtu, 08 Maret 2014

9 Tanda Bahaya Kehamilan



Setiap ibu hamil tentu menginginkan bisa menjalani kehamilannya dengan lancar. Selain perlu mengetahui hal-hal yang biasanya menyertai jalannya proses kehamilan, ibu hamil juga perlu mengenali beberapa tanda bahaya pada kehamilan supaya bisa segera mencari pertolongan medis. Berikut ini, akan dibahas 9 tanda bahayapada kehamilan yang perlu kita ketahui.

1. Mual dan muntah berlebihan (hiperemesis gravidarum)

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada saat hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan menyebabkan keadaan umum tubuh ibu hamil memburuk. Sebenarnyamual dan muntah merupakan hal yang biasa dialami oleh ibu hamil pada kehamilan trimester pertama (3 bulan pertama kehamilan), kurang lebih pada 6 pekan setelah haid terakhir dan umumnya terjadi selama 10 pekan. Akan tetapi, mual dan muntah ini akan menjadi masalah yang sangat mengganggu jika terjadi secara berlebihan, yaitu ketika terlalu sering dan parah (bisa sama sekali tidak bisa makan/minum) dan bertahan lebih lama (bahkan kadang terjadi selama sembilan bulan penuh). Mual dan muntah yang terus-menerus akan menyebabkan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan) dan kekurangan kadar mineral dalam tubuh karena banyak cairan tubuh keluar lewat muntahan. Di samping itu, hiperemesis juga bisa mengakibatkan rusaknya organ hati dan robeknya selaput lendir kerongkongan dan lambung (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan di saluran cerna. Jika tidak dirawat dan mendapat penanganan yang memadai,hiperemesis bisa menjurus pada kekurangan gizi dan dapat membahayakan ibu serta janin yang dikandungnya.

2. Kurang darah (anemia)

Anemia ditandai dengan lemah, letih, lesu, pucat, pusing (kadang berkunang-kunang) dan sering sakit-sakitan. Anemia atau kurang darah merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Ibu hamil yang anemia tidak dapat me­menuhi kebutuhan tubuh ibu dan janin akan nutrisi dan oksigen yang dibawa dalam darah, sehingga pertumbuhan janin terganggu. Pada saat melahirkan, wanita yang menderita anemia dapat mengalami syok karena kehilangan banyak darah dan bahkan berisiko pada kematian.

3. Berat badan ibu hamil tidak naik

Selama kehamilan, ibu hamil di­harapkan mengalami penambahan berat badan sedikitnya 6 kg. Ini seb­agai petunjuk adanya pertumbuhan janin. Tidak adanya kenaikan berat badan yang diharapkan menunjuk­kan kondisi gizi yang buruk pada ibu hamil dan menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang terhambat.

4. Nyeri kepala, gangguan penglihatan, kejang dan atau koma, tekanan darah tinggi

Gejala-gejala tersebut dapat merupakan pertanda adan­ya preeklamsi. Bi­asanya terjadi pada usia kehamilan 20 pekan (akhir trimester 2 atau pada trimester 3) walau juga dapat dijumpai lebih awal.Preeklamsi dapat diikuti terjadinya eklamsi yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

5. Gerakan janin berkurang atau tidak ada

Sejak usia kehamilan 5 bulan, ibu sebaiknya memantau gerakan janin. Gerakan janin diharapkan dirasakan oleh ibu 3 kali setiap jam. Jika ibu merasakan kurang dari itu, menun­jukkan bayi tidak aktif, harus berkon­sultasi dengan bidan atau dokter.

6. Penyakit Ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan

Beberapa ibu yang memiliki penyakit seperti kencing manis (diabetes mellitus), penyakit jantung, anemia, dan penyakit lain yang bisa berpengaruh pada kehamilan, hendaknya sering kontrol dan berkonsultasi dengan dokter. Hal ini untuk meminimalisir akibat buruk yang bisa muncul dan membahayakan jiwa ibu maupun janin yang dikandung. Bahkan, dianjurkan untuk mempersiapkan diri ketika merencanakan untuk hamil.

7. Ketuban pecah dini (KPD)

Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan ketuban dari vagina setelah kehamilan berusia 22 pekan. Ketuban dinyatakan pecah lebih dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.

Jika ibu hamil mengalami ketuban pecah dini, hendaknya segera memeriksakan diri ke bidan atau dokter, karena kondisi tersebut dapat mempermu­dah terjadinya infeksi pada kandun­gan yang dapat membahayakan ibu maupun janinnya.

8. Perdarahan

Perdarahan dapat terjadi pada usia kehamilan berapapun, dan bisa menjadi pertanda adanya bahaya yang mengancam, baik pada ibu maupun janin yang dikandung. Perdarahan pada awal kehamilan dapat merupakan tanda keguguran. Perdarahan pada usia kehamilan 4-9 bulan dapat menunjukkan plasenta letak rendah dalam rahim dan dapat menutup jalan lahir. Perdarahan pada akhir kehami­lan dapat merupakan tanda plasenta terlepas dari rahim. Perdarahan yang hebat dan terus menerus setelah melahirkan dapat menyebabkan ibu kekurangan darah dan merupakan tanda bahaya dimana ibu bersalin harus segera mendapat pertolongan yang tepat dari bidan atau dokter.

9. Demam tinggi

Demam tinggi dapat disebabkan karena infeksi atau penyakit lain. Hendaknya ibu hamil yang mengalami demam tinggi segera memeriksakan diri ke dokter supaya mendapat penanganan yang tepat terkait demam yang dialaminya. Demam tinggi yang tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko terjadinyapersalinan prematur.

KONTROL KEHAMILAN SECARA TERATUR

Sudah semestinya ibu hamil memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan dirinya sekaligus janin yang dikandungnya. Untuk itu, sangat dianjurkan untuk rutin kontrol ke bidan atau dokter, supaya kehamilan bisa lancar dan selamat sampai dengan persalinan. Ibu hamil hendaknya juga banyak berkonsultasi dan mencari tahu mengenai masalah yang mungkin muncul pada saat kehamilan. Dengan begitu, ibu hamil dapat mengambil langkah yang tepat untuk menghadapinya.

Jumat, 07 Maret 2014

Waspadai Penyakit Eklampsia Pada Kehamilan


Kasus eklampsia atau keracunan saat melahirkan masih menjadi salah satu faktor tertinggi angka kematian ibu. Sejak Januari hingga Juli, tercatat sudah ada 11 kasus kematian ibu. Sebagian besar di antaranya, disebabkan keracunan.

Penyakit ini hanya muncul saat kehamilan saja dan harus ditangani dengan baik agar tidak berkelanjutan dan membahayakan ibu maupun janin. “Keracunan kehamilan (toxemia gravidarum) sebenarnya adalah nama lain untuk penyakit preeklampsia/eklampsia pada kehamilan ataupun dalam masa nifas. Penyakit ini ditandai dengan hipertensi dan adanya protein di dalam urin pada kehamilan lebih dari 20 minggu,” buka Dr. med. Damar Prasmusinto, SpOG(K) dari Brawijaya Women and Children Hospital.

Disebut keracunan kehamilan karena hanya terjadi saat kehamilan saja, bukan saat tidak sedang hamil dan kelak setelah melahirkan, kondisi si ibu akan kembali normal.

Waspadai Gejalanya!

Preeklampsia bisa ringan atau parah. Disebut preeklampsia ringan bila kehamilan ditandai dengan timbulnya hipertensi 140/90 mmHg disertai protein di urin (+1). Sementara bila kehamilan disertai hipertensi 160/110mmHg dan protein di urine (+3), sudah termasuk kategori preeklampsia berat/eklampsia.

Meski begitu, walau tekanan darah mencapai 135/85 mmHg, BuMil harus tetap waspada bila kehamilan disertai keluhan seperti: sakit kepala yang terus menerus, rasa nyeri pada ulu hati, bengkak pada bagian kaki, timbul rasa mual – bahkan muntah – serta adanya gangguan penglihatan yang membuat pandangan menjadi kabur; karena kondisi tersebut bisa kategorikan sebagai preeklampsia berat.

Komplikasi.

Penyebab keracunan kehamilan ini masih menjadi misteri, alias belum diketahui pasti. Namun, para ahli sepakat bahwa penyakit ini dimulai saat terjadinya plasentasi (proses pembentukan struktur dan jenis plasenta), yaitu saat di awal kehamilan, plasenta menempel ke dinding rahim.

Nah, ketika itu, seharusnya terjadi perubahan pembuluh darah rahim dan plasenta, agar rahim ibu dapat memenuhi kebutuhan darah plasenta dan janin. “Namun pada preeklampsia, perubahan pembuluh darah rahim tidak terjadi dengan sempurna, sehingga menyebabkan timbulnya komplikasi pada ibu dan bayi,” papar Dr. Damar.

Mengapa ini terjadi? Diduga karena kelainan genetik, kelainan sistem kekebalan ibu, ketidakseimbangan oksidan-antioksidan, gangguan sistem pembekuan darah, dan adanya penyakit yang menyertai kehamilan seperti diabetes, kegemukan, atau kelainan ginjal.

Trimester II dan III.

Preeklampsia biasanya sering terjadi pada trimester II setelah 20 minggu kehamilan; dan paling sering terjadi pada trimester III setelah 30 minggu kehamilan. Gejala preeklampsia bisa muncul pula sebelum usia kehamilan 20 minggu, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi. Semakin dini munculnya gejala preeklampsia maka semakin buruk prognosisnya.

Eklampsia, Kelanjutan Preeklampsia.

Jika preeklampsia tidak ditangani sesegera mungkin, maka Ibu Hamil berisiko tinggi mengalami gagal ginjal akut, perdarahan otak, pembekuan darah intravaskular, pembengkakan paru-paru, kolaps pada sistem pembuluh darah, dan eklampsia.

Ya, eklampsia merupakan gangguan tahap lanjutan yang ditandai dengan serangan kejang-kejang yang bisa berakibat sangat serius bagi Ibu Hamil dan bayinya.
Menurut data, pre eklamsia/eklamsia dapat terjadi =C2=B1 10 persen dari seluruh jumlah kehamilan. Dan dari 10 persen tersebut, bila terkena eklamsia, 30 persen diantaranya meninggal. Sedangkan untuk pre eklamsia sendiri, 20 persen menjadi penyebab kematian Ibu Hamil.

Rawat Jalan atau Rawat Inap?.

Bila Ibu Hamil didiagnosis mengalami preeklampsia/eklampsia, maka melahirkan adalah cara yang paling tepat guna melindungi Ibu Hamil dan mungkin janin yang dikandungnya.
Sayangnya hal ini tak selalu bisa dilakukan karena bisa jadi usia bayi dalam kandungan masih terlalu dini untuk dilahirkan.

Bila mengalami preeklampsia ringan, Ibu Hamil masih diperbolehkan dokter untuk rawat jalan dengan selalu dikontrol tekanan darahnya. Sebaliknya, bila sudah termasuk preeklampsia berat, Ibu Hamil harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Pengobatan.

Bila preeklampsia disertai kejang-kejang berarti Ibu Hamil sudah termasuk dalam kondisi eklampsia. Tak bisa tidak, ini merupakan kondisi gawat darurat dan memerlukan penanganan tepat dan segera.

“Kalau terjadi kasus ibu hamil dengan eklampsia di rumah, segera bawa Ibu Hamil ke rumah sakit, jika perlu rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap sehingga Ibu hamil tetap dalam penanganan dokter. Selanjutnya dokter akan memberikan obat antihipertensi dan tambahan infuse MgS04 (anti kejang) serta obat-obatan suportif berupa antioksidan. Penting untuk mencegah Ibu Hamil kejang kembali, kemudian bayinya segera dilahirkan berapapun usia kehamilannya…” ujar Staf Divisi Fetomaternal, Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Bisa Alami Perdarahan.

Lebih lanjut Dr. Damar mengatakan, Ibu Hamil penderita eklampsia bisa saja mengalami perdarahan dari kemaluan. “Jika terjadi perdarahan, biasanya plasentanya sudah terlepas dari rahim sehingga ini membahayakan Ibu Hamil dan bayinya. Untuk itu, mungkin diperlukan tindakan operasi sesar segera,” paparnya.

Meski demikian, perdarahan dapat pula terjadi setelah bayi lahir. Kondisi ini memang tidak membahayakan bayi, tetapi membahayakan jiwa si ibu. Disebut perdarahan pascapersalinan apabila jumlah darah yang keluar lebih dari 500 cc. Penyebab utama terjadinya perdarahan ini adalah rahim tidak berkontraksi setelah bayi lahir.

Perlu atau tidaknya si ibu ditransfusi bergantung dari berat ringannya anemia akibat perdarahan yang terjadi.

Senin, 24 Februari 2014

Mengartikan Tangisan Bayi



Bayi dilahirkan dengan kemampuan untuk menangis sebagai caranya berkomunikasi selama belum bisa bicara. Tangisan bayi bisa diartikan untuk memberi tahu sesuatu, seperti lapar, kakinya dingin, lelah, ingin digendong atau dipeluk, popoknya basah, dan sebagainya. Setelah beberapa saat, Ibu mulai bisa membedakan tangisannya. Saat lapar, misalnya, tangisannya mungkin pendek-pendek dan bernada rendah, sedangkan kalau ‘marah’ nadanya terdengar meliuk-liuk.

Menangis adalah cara komunikasi utama bagi bayi. Dengan belajar mengartikan tangisan bayi, selain bisa menenangkannya, juga bisa memperkuat ikatan Ibu dengan si Kecil. Hanya sayangnya, mengartikan tangisan bayi tidak mudah, bahkan bagi orang tua yang sudah punya anak sebelumnya.

Tangisan bayi yang sedang sakit akan terdengar berbeda dengan tangisan karena lapar atau merasa frustasi. Bila Ibu mendengar tangisan yang berbeda begitu, percayalah dengan naluri keibuan dari dalam hati dan segera bawa ke dokter. Satu alasan tangisan bayi berkepanjangan, meski sudah dipeluk atau digendong adalah karena ia sakit. Segera bawa ke dokter bila suhu tubuhnya 38 °C atau lebih.

Bayi juga akan menangis bila ia merasa sangat senang oleh lingkungannya, atau adakalanya tanpa alasan sama sekali. Ibu jangan merasa bersalah kalau si Kecil menangis dan Ibu tidak bisa segera menenangkannya. Menangis adalah satu-satunya cara bagi bayi untuk ‘tidak menerima lagi’ suatu rangsangan pada saat ia merasa berlebihan.

Bayi baru lahir mampu membedakan suara manusia dengan suara-suara lain. Jika ia menangis dalam boks bayinya, perhatikan bagaimana suara Ibu bisa cepat menenangkan. Perhatikan mimik wajahnya saat Ibu mengajaknya bicara dengan nada penuh cinta, meskipun Ibu mengajaknya bicara dalam jarak cukup jauh. Mungkin saja ia akan mengubah posisi tubuh atau wajahnya saat mendengarkan suara Ibu.

Janin sudah mulai belajar sejak dalam kandungan, karena pertumbuhan sel-sel otak sudah terbentuk. Hal ini termasuk mengenali aksen bicara orang tuanya sejak dalam kandungan sebagai bahasa pertama yang dikenalinya kelak.

Irama tangisan seorang bayi ternyata mengikuti kesamaan intonasi bahasa yang pernah didengarnya dalam kandungan. Sebagai contoh, tangisan bayi Perancis cenderung berakhir dengan nada meninggi. Dan semua itu bukan tanpa maksud. Menurut jurnal ilmiah ‘Current Biology’, bayi-bayi sepertinya mencoba membentuk suatu ikatan dengan ibu mereka dengan cara meniru.

Sejak lama sudah diketahui bahwa janin mendengar dan terbiasa dengan bahasa-bahasa yang didengarnya dari luar rahim. Beberapa penelitian menunjukkan, saat seorang bayi diperdengarkan bahasa-bahasa berbeda segera setelah lahir, ia akan menunjukkan pilihan pada bahasa yang paling sering didengarnya selama di dalam rahim. Hanya saja, mengenali suatu bahasa dan bisa bicara bahasa itu, ataupun menangis dengan bahasa itu, adalah dua hal berbeda.

Dr. Kathleen Wermke dari University of Wurzburg, menganalisis tangisan dari 60 bayi baru lahir yang sehat saat berumur 3-5 hari. Terungkap ada perbedaan-perbedaan jelas dalam hal irama tangisan bayi yang menjelaskan bahasa ibu-ibu mereka. “Penemuan dramatis dari studi ini bukan hanya bayi baru lahir mampu menghasilkan irama tangisan berbeda, namun mereka condong menghasilkan pola-pola irama yang khas dengan bahasa yang pernah mereka dengar saat masih janin.”

Penjelasan hal itu, menurut Dr. Wermke, karena bayi baru lahir sangat termotivasi meniru perilaku ibunya untuk menarik perhatian ibu dan membantu perkembangan ikatan di antara keduanya.

Tanda-tanda bahaya BBL

Tanda – tanda bahaya BBL

Sebagian besar bayi akan menangis atau bernafas secara spontan dalam waktu 30 detik setelah lahir.
· Bila bayi tersebut menangis/ bernafas (terlihat dari pergerakan dada paling sedikit 30 kali per menit), biarkan bayi tersebut dengan ibunya.
· Bila bayi tersebut tidak bernafas dalam waktu 30 detik, segeralah cari bantuan, dan mulailah langkah-langkah resusitasi bayi tersebut.
Penanganan ; persiapkan kebutuhan resusitasi untuk setiap bayi dan siapkan rencana untuk meminta bantuan, khususnya bila ibu tersebut memiliki riwayat eklamsia, perdarahan persalinan lama atau macet, persalinan dini atau infeksi.


· Jika bayi tidak segera bernafas, lakukan hal-hal sebagai berikut
1. Keringkan bayi dengan dengan selimut atau handuk yang hangat.
2. Gosoklah punggung bayi tersebut dengan lembut.
· Jika bayi masih belum mulai bernafas setelah 60 detik mulai resusitasi.
· Apabila bayi sianosis (kulit biru) atau sukar bernafas (frekuensi pernafasan kurang dari 30 atau lebih dari 60 kali per menit), berilah oksigen kepada bayi dengan kateter nasal atau nasal prongs.


Tanda-Tanda Bahaya Dibagi menjadi Dua:
1. Tanda-tanda bahaya yang harus dikenali oleh ibu yaitu
Pemberian ASI sulit, sulit menghisap, atau hisapan lemah
Kesulitan bernafas, yaitu pernafasan cepat > 60/ menit atau menggunakan otot nafas tambahan.
Letargi – bayi terus – menerus tidur tanpa bangun untuk makan.
Warna abnormal-kulit/ bibir biru (sianosis) atau bayi sanagt kuning.
Suhu terlalu panas (febris) atau terlalu dingin (hipotermia).
Tanda atau prilaku abnormal atau ttidak biasa.
Gangguan gastrointestinal, misalnya tidak brtinja selama 3 hari pertama setelah lahir, muntah terus menerus, muntah dan perut bengkah, tinja hijau tua atau brdarah/ lender.
Mata benggkak atau mengeluarkan cairan.


2. Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir.
Pernafasan- sulit atau lebih dari 60 kali permenit.
Kehangatan terlalu panas ( > 38° c atau terlalu dingin < 36Âșc)
Warna kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar.
Pemberian makan, hisapan lemah , mengantuk berlebihan, banyak muntah.
Tali pusat merah, bengkak,keluar cairan (nanah), bau busuk, pernafasan sulit.
Tinja / kamih-tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lender atau darah pada tinja.
Aktivitas- menggigil atau tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak bias tenang, menangis terus menerus.

Parenting.co.id: Memahami Arti Tangisan Bayi

Parenting.co.id: Memahami Arti Tangisan Bayi

Benarkah Bayi Baru Lahir Bisa Stres

Orangtua seringkali tak menyadari, bayi baru juga bisa mengalami stres oleh pengaruh lingkungan. Maklum, banyak mama juga ‘sibuk’ dengan dirinya sendiri pasca membawa bayi baru pulang ke rumah.

Apalagi kalau mama mengalami baby blues, emosi yang tak stabil, dan perasaan yang tak menentu bisa membuatnya tak terlalu peka terhadap keadaan si bayi. Padahal, beberapa bayi baru lahir kadangkala ikut stres ketika harus beradaptasi dengan aktivitas di sekelilingnya, dan mengikuti ritme kehidupan yang baru di rumah.

Lalu tanda-tanda seperti apa yang menunjukkan bayi baru Anda stres? Sebetulnya ini bisa dilihat dari gerakan tubuh, tarikan wajah, tatapan mata, pola pernapasan, dan respon yang ia tunjukkan. Tepatnya, seringkali ia akan menunjukkan tanda-tanda seperti ini:

- Tidurnya terlihat ‘dalam’ (deep sleep). Bayi seolah susah sekali bangun dan sulit membuka mata. Ia terlihat ‘malas’ menyusu, dan nyaris tidak melakukan gerakan yang berarti. Jantungnya berdetak lambat dan pernapasannya teratur. Bila Anda mengusiknya ia akan cepat terbangun, tapi dengan cepat ia akan tertidur lagi.

- Sering menangis tanpa sebab. Sesekali tubuhnya terlihat bergerak, dan menolehkan kepala. Wajahnya seperti ditarik atau meringis. Pernapasan dan detak jantungnya tak beraturan, wajahnya kadangkala berubah memerah, tapi lalu kembali normal. Bila dibiarkan sendirian ia bisa saja terbangun, atau kembali tertidur.

- Mata terbuka, tapi tatapannya kosong. Wajahnya terlihat lesu. Terkadang kakinya menendang-nendang secara spontan, jantungnya berdetak tidak teratur, begitupun pernapasannya. Wajahnya bisa berubah memerah dan ia terlihat gelisah dan rewel. Bila dibiarkan ia akan menangis dan kesal. Wajahnya yang memerah lama kelamaan bisa terlihat agak membiru karena menangis berkepanjangan.

Dengan mengenali sinyal-sinyal stres saat berinteraksi dengan si bayi, Anda akan bisa segera menolongnya, menenangkan dan membuatnya merasa lebih nyaman, dan membantunya beradaptasi dengan lingkungan barunya, yaitu rumah!

Tidur Tengah Malam Bagi Remaja Berisiko Besar Depresi - Health Topics

Tidur Tengah Malam Bagi Remaja Berisiko Besar Depresi - Health Topics